Selasa, 13 Mei 2014

Surat untuk calon anakku (part I)

Assalamualaikum nak,
Aku adalah wanita yang paling beruntung didunia ini karna Allah telah menganugrahi kamu untukku..
Segera ketika aku tau kehadiranmu, aku begitu bersyukhur.. Aku ingat saat itu adalah hari ulangtahunku yang ke 21 tahun, aku memang sudah feeling dan Alhamdulillah aku benar2 bahagia ketika aku tau kalau Allah menitipkan kamu dalam rahimku..
Kehadiranmu sudah lama kunanti, aku ingin menjadi seorang ibu, aku ingin menjadi seperti ibuku.. Terlepas dari apapun impian-impianku, aku ingin mempunyai anak dari rahimku sendiri, aku ingin mengandungmu, melahirkanmu, membesarkanmu, mendidikmu, mengajarimu, menyanyangimu, membimbingmu menjadi manusia yang sebenarnya..
Yang pasti kamu harus bahagia dunia akhirat dan harus lebih baik daripada aku..
Kini kamu semakin besar, kamu hidup bersamaku dalam satu tubuh.. Apa yang aku rasakan pasti kamu rasakan...
Aku semakin tak sabar untuk mengantarkanmu ke gerbang dunia nak...

Sabtu, 09 November 2013

Kekacauan Yang Takkan Beres

Malamu dalam kalbu, menuai larut yang tak kunjung menentu, 
langitmu merendam rasa, hingga hari ini dalam jabang kita melayang, 
dimana absurditas sejati itu kau cipta? 
diamku menanyakan gundah yang merana..

Satu, dua bait mulai terlihat,
kerlingan matanya menyilaukan setiap tulisan dalam jejak malam yang tak berbintang, 
bayang-bayang itu menghantui setiap lompatan peradaban yang lelah.

Masihkah kau membaca kekacauan ini? 
oh tidak, kau mulai bingung dengan setiap kata yang menerjang langit,
kau bosan dengan kenormalan hidup yang bodoh,
mentari, pancarkanlah kecerdasan semesta!!

Ketiadaan pengertian adalah pengertian yang sesungguhnya,
sebab dunia cenderung menghormati hasil ketimbang proses,
dan dunia menjunjung labil hingga semuanya takkan beres,
yah, semuanya takkan beres..


Absurditas

Malammu dalam kalbumu,
menuai larut yang tak kunjung menentu,
langitmu merendam rasa,
hingga hari ini dalam jabang kita melayang,
di mana absurditas sejati itu kau cipta?
diamku menanyakan gundah yang merana..

Satu, dua bait mulai terlihat, kerlingan matanya menyilaukan setiap tulisan dalam jejak malam yang tak berbintang,
bayang-bayang itu menghantui setiap lompatan peradaban yang lelah.

iya, peradaban semakin lelah,
sebab setiap kita menjauhi kejujuran tanpa pelan,
mengakibatkan peradabaan menolak peredahan,
maka cinta tanpa bui sekalipun manusia bisa merasa dipenjarakan,

Satu, dua bait menampakkan bayangnya,
Kata-kata mencemaskan tangan yang bingar,
dentumannya memihakkan udara dalam tiap jajar genjang jagad raya,
partikel dan gelombang mulai berlomba mengisi paradigma secara bergilir seiring cinta mengumumkan keterbukaan setiap kalbu,
dan kau masih menyimpan absurditas ..

Kamis, 03 Oktober 2013

Impossible

Bagaimana mungkin kau membaca buku hanya untuk mendapatkan pujian-pujian dari orang-orang sementara buku yang kau baca pun kau tak tau apa isinya....?
Bagaimna mungkin kau turun jejalan hanya untuk dianggap 'ada' oleh mereka sementara kau sendiri tidak bernyali untuk menyuarakan aspirasi (orasi)....?
Bagaimana mungkin kau berbicara dari forum ke forum hanya untuk mendapatkan tepuk tangan dari mereka tanpa tau subtansi masalah apa yang sedang dibicarakan....?
Bagaimana mungkin kau bangun terus pencitraan kepada khalayak ramai lewat status-statusmu namun dibalik itu kau berperan sebagai komperador......?
Bagaimana mungkin kau mengajak orang terhadap kebaikan jika dirimu sendiri masih berkedok agama untuk melegitimasi perbuatan busukmu.....?
Dan bagaimana mungkin kau berbicara tentang perubahan sedangkan kau masih saja berkutat dalam tataran cinta ababilmu Nak......?

Senin, 18 Maret 2013

Titik Bukan Koma

Di puisiku, kau hidupkan setiap aksara kisah berisi takdir.
Kau rangkai sejuta angan menjadi kalimat tiada akhir.
Masih ada sejuta paragraf cantik yang harus kita tulis bersama, agar segala kenang bisa menjadi titik, tidak hanya koma.
Tak mengapa ruang dan waktu mengutuk kebersamaan kita saat ini, namun ini baru hanya akan menjadi awal.
Tak kusalahkan kau bersenda gurau dengan kecemasan, memilih tersenyum ditengah risau kesedihan, diantara puisi keindahan.
Ingat, jutaan kelopak mata belum rangkum kita susun, kuncup-kuncup makna butuh zat hijau bdaun untuk jatuh sebagai embun.....

Rabu, 13 Maret 2013

tanda tanya


Mentari hampir penuh menyinari bumi.
Waktu menunjukan pukul 11 siang. Setengah hari hampir terlewati dengan percuma.
Bukan tanpa alasan, aku begitu lelah.
Alasan semalam begitu mengangsingkanku dari sinar mentari..
Ceritaku semalam suram.
Mungkin sesuram kebohongan yang sedang aku susun..
Biarlah ini jadi satu kesatuan konspirasi yang hampir sempurna.
Aku bingung, apalagi kamu?

Sementara kau masih asik bergulat dengaan lamunanmu,
hai bangun!
Aku sudah hampir sampai, sampai pada kemenangan.
Akulah manusia pragmatis tulen.
Semua akan baik-baik saja.
Apa yang aku inginkan pasti aku dapatkan....





Rabu, 06 Februari 2013

Kapal dan Nahkoda

Kami masih ingat kepanikan beberapa hari yang lalu..
Saat itu kapal tiba-tiba berhenti ditengah samudera luas.
Beberapa penumpang terlihat panik, aku yang berada ditengah keadaan itu pun tak kuasa menyembunyikan kepaniakan yang ada diraut wajahku..

Entah kenapa malam itu kapal berhenti berlayar.
Rasanya tak ada lampu merah ditengah lautan..
Para awak kapal pun tak bisa ,menjelaskan apa yang tengah terjadi..

Aku hanya bisa berdoa semoga keadaan akan baik-baik saja..
Sementara nahkoda pun tidak bisa ditemui.
Rasa kepanikan semakin bergejolak ketika ombak besar datang menerjang..
Kapal yang kami tumpangi oleng dibuatnya.. Ya Tuhan....

Akhirnya sampai saat ini kapal masih berhenti ditengah samudera..
Persediaan makanan kami mulai menipis..
Para penumpang tak henti-hentinya menangis.
Kami semua ketakutan.

Kapten, ada apa ini?