Di puisiku, kau hidupkan setiap aksara kisah berisi takdir.
Kau rangkai sejuta angan menjadi kalimat tiada akhir.
Masih ada sejuta paragraf cantik yang harus kita tulis bersama, agar segala kenang bisa menjadi titik, tidak hanya koma.
Tak mengapa ruang dan waktu mengutuk kebersamaan kita saat ini, namun ini baru hanya akan menjadi awal.
Tak kusalahkan kau bersenda gurau dengan kecemasan, memilih tersenyum ditengah risau kesedihan, diantara puisi keindahan.
Ingat, jutaan kelopak mata belum rangkum kita susun, kuncup-kuncup makna butuh zat hijau bdaun untuk jatuh sebagai embun.....
(y)
BalasHapus